30 Hari Ngebangun Kebiasaan Baik Baru

Monday, September 30, 2019

Semenjak ngikutin Matt D'Avella di Youtube, aku jadi belajar banyak untuk lebih conscious dalam menjalani hidup. Awalnya sih untuk nyari tau soal kehidupan seorang minimalis, terutama dari dia yang menjalani hari dengan sesedikit mungkin item yang dimiliki. 

I started to using monochromatic tone for my outfit, it's simplify me :) And it doesn't take a lot of time to mix n match, right?

Apa sih hidup minimalis itu? Seperti suku katanya, minimal-is berarti hidup dengan seminimal mungkin hal. Lebih tepatnya, minimalism is all about living with less. Apakah hidup dengan barang yang sedikit mungkin bahagia? Ya mungkin aja.

Tapi yang lebih penting dari itu adalah..., live your life to the fullest. Minimalis adalah salah satu gaya hidup untuk mencapai hal itu. Bagaimana mencapai kehidupan yang hqq meski dengan barang yang secukupnya, pas, nggak kekurangan atau berlebihan.

Sebab kurang artinya nggak baik, dan lebih juga nggak baik.

Dari Matt, aku juga tahu Joshua Fields Millburn & Ryan Nicodemus dari The Minimalists. Mereka adalah dua dari sekian banyak orang yang menganut prinsip hidup minimalis. Salah satu yang paling kentara ialah di setiap konten yang dibuatnya, mereka selalu pakai baju berwarna sama, hitam.


Minimalis harus pakai baju hitam, putih, abu, monokrom sebosan itu ya?

Nggak juga kok. Aku kenal seseorang yang juga menjalani gaya hidup minimalis tapi tetap berpakaian seceria yang dia bisa, warna-warni colorful bukan sekadar pastel atau earth tone, tapi benar-benar vibrant. Let's meet her on @merrysomalinggi.

Ada banyak referensi untuk mulai mendalami minimalism lifestyle. Sebut saja platform apapun, cari dengan kata kunci minimalism atau essentialism, di saat itu juga banyak sumber belajar yang bisa kamu ambil. Lemme know who's your favorite person, k?


Salah satu langkah pertama untuk mulai hidup minimalis adalah dengan sadar betul dengan kondisi saat ini. Aku percaya mau sehebat apapun role model yang diamini seseorang, pencapaiannya nggak akan benar-benar terpatri buat kita yang masih bingung sama tempat di mana kita berdiri sendiri.

Sebelum aku mengenal minimalis pun, aku udah lebih dulu tau soal Marie Kondo yang mencetuskan metode KonMari sebagai seni beberes. Dari KonMari ini, yang digabungkan konsep dan kebiasaan dari The Minimalists dan Matt D'Avella, sejak dua bulan lalu aku mulai lebih serius melakukan hal-hal ini demi menunjang kehidupan yang lebih optimal, seenggaknya buatku pribadi.


Agustus lalu, aku ngide untuk mulai beberes kamar kos yang ternyata udah cukup penuh sama banyak barang yang nggak benar-benar kubutuhkan. Gegara #minsgame yang diinisiasi The Minimalists, setiap hari selama sebulan, aku mengurangi barang-barang yang kupunya tapi nggak kupakai sesuai jumlah hari berjalan.

Hari pertama, satu barang diikhlaskan. Hari kedua, dua barang. Hari ketujuh, tujuh barang. Hari ketigabelas, tiga belas barang sudah berpindah tempat. Begitu seterusnya... Entah dibuang karena nggak lagi memenuhi fungsinya, didonasikan untuk mereka yang membutuhkan, dijual karena ngerasa masih ada manfaatnya, atau sekadar dihilangkan dari pandangan dan ruang di mana kita berada saat itu.

Bukan hal yang gampang. Minggu pertama masih belum kerasa challenging karena pasti, sangat dipastikan, kita punya barang yang emang udah perlu dibuang tapi masih ngendon bae di space kita sendiri. Memasuki minggu kedua, mulai nyari-nyari dengan sengaja untuk ngebuang barang atau nggak lagi milik sendiri. Beberapa barangku ada yang kudonasikan atau malah dijual karena ternyata lumayan juga buat jajan, wkwk. Di minggu ketiga dan keempat, hampir menyerah meski biasanya masih ada barang yang nyempil dan akhirnya perlu pertimbangan untuk melepaskannya.


Lebih seru lagi kalau ngelakuinnya bareng temen. Seringkali kita ngerasa lebih seru kalau ada tantangan dan saingan. Siapa yang bertahan sampai akhir, dia yang menang. Tell me if you're looking for buddy, I'm here for ya~

Selama sebulanan itu, aku cukup enjoy menjalani permainan ini. Ternyata ada banyak barang yang memang aku simpan terlalu lama padahal sudah nggak lagi kusuka atau lewat momennya. Semacam printilan yang malah menuhin isi lemari, alat tulis yang nggak akan terpakai, bahkan baju-baju yang menurutku nggak lagi memancarkan kebahagiaan. Setidaknya ada 500an barang yang berhasil aku declutter dari hidupku saat itu.

Lega? Banget! Kalaupun ada yang sempat bikin dilema, toh aku masih bisa nyimpen tampilannya lewat soft file. Atau kalau emang belum serela itu, aku bakal keep beberapa waktu untuk kemudian menunggu 'ajalnya' barang itu kulepaskan. Ini hanya masalah waktu sampai aku benar-benar hidup dengan barang yang benar-benar kubutuhkan aja.

Nggak sekadar declutter barang, ajaran lainnya yang mulai kuterapkan adalah tantangan ngelakuin kebiasaan baik baru. September ini, aku mencanangkan untuk lebih rajin jalan kaki setiap hari. Studi membuktikan, paling tidak butuh 21 hari secara berturut-turut untuk membangun kebiasaan. Artinya, waktu sebulan udah lebih dari cukup untuk bikin peningkatan diri biar jadi pribadi yang lebih baik, nggak cuma omdo, hehe...

Mumpung ini Senin dan besok mulai bulan baru, kira-kira mau ngelakuin kebiasaan baik apa nih?

You Might Also Like

4 comment(s)

  1. Wahaha... saya masih belum berani buang-buang barang meski tahu barang-barang itu udah nggak berguna. Salut, Mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe gpp, siapa tau bakal kepake nanti ya? aku ngerasa dgn buang barang jd lebih nyaman aja sih...

      Delete

Thanks for coming. I am glad you have reading this so far.

♥, acipa