The Greatest Singapore of Them All

Friday, August 09, 2019

Negara paling imut di Asia Tenggara tapi oh sungguh pendapatan per kapitanya bikin aku mau tinggal di sana. Nggak deng, semua terkait Singapura sejujurnya menggedor jiwa terdalamku, kapan ya Indonesia bisa kayak gitu? Duuh, kalo nggak Sabtu, ya paling Minggu, karena Senin keburu harga naik *apaan si cip*

Perjalanan ke Singapura niatnya untuk menyeberang ke Johor Bahru demi acara ini, biar gampang ditempuh pesawat dari Bandung. Dan oh lalala, terima kasih jadinya aku nggak keki banget karena Singapura bikin diriku terkesan meski nggak cukup sekali untuk dipuaskan. Ngg...

| Welcome, Baby!

Aku mendarat di bandara Changi tanggal 7 Juli masih siang. Selepas keluar dari imigrasi, seperti turis pada umumnya, Jewel Changi Airport jadi salah satu mandatory spot yang kudatangi. Foto cekrek sesekali, dan mempertanyakan kenapa ada bocoran air segede ini dengan tadahan yang nggak bikin basah kuyup di mari. Dan oh, mungkin kapan-kapan kubakal nyobain skytrain yang melintasi Jewel ini, keren juga!


Keluar dari bandara, destinasi pertamaku adalah city center berupa Merlion Park dengan view di sekelilingnya berupa Marina Bay Sands, Helix Bridge, ArtScience Museum, Esplanade, dan Singapore River yang dilalui kapal turis sesekali. 


Kesannya? Rame banget! Terutama gerombolan turis Indonesia yang kusadari saking banyaknya tour guide dengan bendera dan spanduk. Meski aku jelajah sendirian, aku beruntung karena ada yang mau bantu motoin secara gantian (solo traveling obstacle, you know?) Dan serunya, malah jadi ketemu teman baru dari Batam yang lagi main ke sana. Well, Kak Tesyi dkk ini enak banget karena cuma tinggal nyebrang ke Harbour Front doang, berasa sejengkal ye :P

Met Kak Tesyi & Kak Ria from Batam

Malam itu dilewati dengan kaki yang mulai burn out karena rada menyesal pakai sepatu yang kurang nyaman. Sekitar jam 9 malam (yang berasa masih jam 7an), aku pergi ke lokasi host Couchsurfing-ku di area Lake Garden.

| Couchsurfing Experience

Yap, aku tahu Couchsurfing ini dari hasil baca artikel travel guide. Couchsurfing merupakan aplikasi hospitality and social networking service. Bisa dibilang semacam platform yang mempertemukan host (orang yang nyediain akomodasi) dan traveler (orang yang nyari akomodasi) di suatu tempat dalam rangka traveling.

Well, nggak sekadar buat "numpang tidur" doang, aplikasi ini bisa banget dipake untuk hangout bareng buat yang suka jalan-jalan. Simpelnya macam Tinder, tapi bukan khusus nyari jodoh atau orang yang mau hook up *meski bisa-bisa aja sih*. Cuma memang banyak yang mengenal Couchsurfing (CS) sebagai aplikasi yang ngebantu traveler untuk mempermudah kegiatan traveling-nya, apalagi buat yang punya style budget backpacker macam diriku.

Nggak segampang itu untuk nyari host yang mau nyediain couch--sebutan untuk tempat tumpangan, bisa berupa rumah, apartemen, kos, atau bahkan hammock. Aku sendiri awalnya serba bingung, apakah booking hostel atau nge-CS aja. Tadinya sempet dapet host di daerah Yishun, yang baru kutahu area tersebut dibilang terrifying place to live in Singapore. Gegara itu, mepet keberangkatan ke Singapura aku nyari lagi dan baru dapet host baru. Alhamdulillah!

My couch in Singapore, thanks a lot Nahid!

Couchsurfing host yang mau nerima aku ini namanya Nahid, orang Jerman yang lagi kerja dan tinggal di Singapura. Pas aku bilang bahwa aku Muslim, doi cerita kalau hidupnya sangat jauh dari halal lifestyle -- I found out some liquor on her apartment, btw. Tapi, dia ini baik banget, mau bawain tasku pas kami pertama kali ketemu di apartemennya.

Malam itu kami ngobrol basa-basi kenalan. Secara nggak langsung, hal itu juga yang maksa aku buat ngomong bahasa Inggris. Bodo amat sama grammar dan tenses, yang penting kami paham deh. Nahid cerita kalo doi juga pernah ke Bandung, yang kebetulan pas banjir. Oh well, mungkin waktu dia main ke Baleendah kali ya, cause Bandung is divided into Bandung city, Bandung regency, and West Bandung regency. Penting!

Selama di apartemennya itu, aku jadi bercita-cita punya suasana rumah kayak doi punya. Hunian dia juga terbilang minimalis, nggak banyak barang di sana-sini. And oh, I love her hammock! Meski dia nyediain matras, aku rela-rela aja tidur di hammock balkonnya. LOL.

Paginya, setelah nawarin Nahid wedang uwuh (ditambah sarapan kurma dan yogurt, oh I feel like European!), aku berencana explore Singapura lagi. Nahid cabut duluan untuk kerja sebagai kurator di salah satu galeri, sementara diriku masih beberes nyuci jemuran di depan balkonnya. Yes, I do homework while traveling, and it doesn't matter to me 😝

| Explore Singapore

Tujuan pertama adalah Chinatown yang pagi-pagi tentunya nggak banyak kehidupan. Aku sempat mampir ke Masjid Jamae Chulia dan sarapan lagi ala warlok di Ya Kun Kaya Toast. Nyobain roti dengan balutan selai kaya khas dan kopi hitamnya (rumus kopitiam itu perlu banget dipelajari!)

Enak kalik ya kalo bisa slow living nggak inget tugas syalalala~

When in doubt, come to here. When you feel anything, always come to here~

Dari Chinatown, aku jalan kaki ke area Clarke Quay. Iyes, by feet, karena kalo pake MRT cuma satu stasiun doang dan sayang aja sih, hhh. Di Clarke Quay ini sebenarnya bisa boat riding untuk keliling Singapura, tapi enaknya pas senja-senja biar syahdu gitu. Tapi karena aku datang sekitar jam 11an, tujuanku waktu itu adalah napak tilas Central Perk SG.

Buat penggemar serial F.R.I.E.N.D.S pasti tau kalo pemainnya sering banget nongkrong di kedai kopi bernama Central Perk. Tapi tentu saja Central Perk SG ini semacam replika themed cafe dari tempat aslinya di Manhattan, NY sana. Selain koleksi ala-ala Rachel, Monica, Phoebe, Joey, Chandler, dan Ross, menu makanan dan minumannya juga dibuat unik. Tapi karena paginya udah ngopi Kopi O, aku cuma pesan raspberry juice yang lebih mirip sirup marj*n, plus karena harganya paling murah (total dengan tax dan service sekitar IDR 80k, iya kan murah banget hhh).

Dari area Clarke Quay, naik MRT menuju Somerset. Tadinya kan mau nyicip Garret Popcorn di 313@Somerset, tapi karena keburu tau kalo Garret nggak halal, jadilah cuma khayalan belaka bisa ngerasain popcorn yang katanya enak itu *andaikan nggak tahu*. Tapi nggak sedih, karena dekat Orchard juga bisa main ke library@Orchard, Masjid Al-Falah, beli es krim uncle, dan window shopping di mall area tersebut. Hepi!

Masjid Al-Falah, deket banget sama area Orchard Rd.

Dari Orchard, perjalanan berlanjut menuju Little India. Jelajah area ini bisa dibilang kurang seru karena ya... gegara sendirian, jadi rada aneh juga sih. Mau foto di spot instagramable juga repot meski bawa tripod. Belum lagi karena Singapura sempat diguyur hujan, aku neduh sambil belanja oleh-oleh di Mustafa Center aja.

Yaah, sejujurnya nggak beneran beli apa-apa sih, selain karena baru tau kalo sebagian besar makanan yang dijual di sana diproduksi di Indonesia (I see Bekasi on it!), sedikit yang bikin aku tertarik. Bukan sekadar uang buat belinya, aku juga mikirin space yang dibutuhin buat naro belanjaan ini karena kuhanya bawa satu tas backpack saja. Ywdh si babay!

Kenyang begok makan ini, engap banget!

Siang menjelang sore, aku nyobain beberapa menu khas India yang entah kulupa namanya apa. Hitungan harganya terbilang murah dengan SGD 12 bisa dapat makan sebanyak itu. Beneran banyak banget kek porsi tukang, yang nggak sanggup kumakan sendirian ditambah rempahnya yang sangat kaya. Whoaaa...

Dari Little India, aku nerusin jalan kaki ke arah Kampung Glam di mana lokasi Masjid Sultan berada. Tadinya, aku sempat kepikiran untuk jadiin masjid sebagai destinasi tempat tidur kalau-kalau nggak dapet host CS. But unfortunately, masjid di Singapura kurang ramah terhadap pelancong. Maksudku, kalau dibanding Masjid Salman ITB yang sampe nyediain matras dan selimut buat musafir, masjid di Singapura kayaknya taat aturan kedisiplinan. Boleh lah boleh!

Masjid Sultan Singapura

Dari sana, jalan sekitar Bugis Street, karena keburu matahari tenggelam nggak sempet eksplor Haji Lane yang terkenal itu. Oh iya, aku juga baru tahu kalo %Arabica Coffee juga dibuka di sekitar Arab Street. Tapi karena pagi hari udah ngopi, kita skip aja ya *padahal mah biar jajan hemat, duh!*

Segelas kopi susunya setara dengan harga lot ANTM, iykwim.

Perjalanan malam itu usai dan balik lagi ke apartemen Nahid. Parahnya, cucian yang dijemur di balkon nggak kering karena siangnya hujan, dan host-ku baru bilang kalo doi punya mesin cuci. Iye, soalnya di dalam lemari gitu, duuuhhh... kocak banget sih!

| Bye Singapore, Hi Johor Bahru!

Besoknya, 9 Juli aku nggak punya rencana apapun, tadinya sih mau main ke Singapore Botanic Garden atau sekadar naik sepeda di jalanan Singapura yang sangat kece. Tapi karena hari itu aku udah pesen tiket kereta ke Johor Bahru, jadilah pergi dari apartemen Nahid langsung ke Woodlands biar nggak telat. Aku punya masalah dengan check in di stasiun, hobi mepet sedetik emang!

Dari stasiun Lakeside, aku naik MRT ke stasiun Marsiling, dilanjut naik bus ke Woodlands Train Checkpoint. Kenapa nggak MRT Woodlands aja sis? Meski namanya sama, ternyata jarak dari Woodlands Train Checkpoint ke stasiun MRT ini kurang efisien dibanding caraku sebelumnya.

Naik kereta lintas negara seasik itu, ntar kita coba lagi yuk!

Nah, Woodlands ini merupakan area perbatasan yang digunakan untuk lintas Singapura - Johor Bahru. Ada dua cara transportasi publik yang bisa digunakan, bus dan kereta. Untuk bus terbilang murah, sekitar SGD 2-3 dari beberapa stasiun MRT di SG. Tapi proses imigrasinya rada ribet karena harus dicap keluar Singapura di Woodlands Interchange dan masuk Malaysia di JB Central. Belum lagi jarak tempuhnya yang sedikit lebih lama, mungkin bisa 20-40 menitan tergantung lalu lintasnya.

Sementara kalau naik kereta, meski harus bayar SGD 5, cap paspor cukup dilakukan sekali di imigrasi Woodlands Train Checkpoint untuk keluar SG dan masuk MY. Nantinya, pas tiba di JB Central nggak harus repot lagi, terutama kalau misalnya mau lanjut ke daerah Johor Bahru lain. Dan terpenting, cukup 5 menit udah bisa nyampe beda negara. Sekicep doang itu mah.

FYI, kalau dari Johor Bahru ke Singapura naik kereta, harga tiketnya murah banget, cuma MYR 5. Sama-sama satuan lima sih, tapi beda mata uangnya menentukan. Itungannya kalo dari SG ke JB bisa IDR 50k, dari JB ke SG cuma IDR 17k, kocak gak sih?

Ketemu lagi ya!

And that's it, perjalanan di Singapura yang mengesankan. Belum sempet jelajah Universal Studio Singapore dan banyak tempat menarik lainnya, but soon I'll be there again. See you!

You Might Also Like

0 comment(s)

Thanks for coming. I am glad you have reading this so far.

♥, acipa