Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Masih Takut Divaksin? Jelajahi Dulu Museum Bio Farma

by - Monday, August 06, 2018

Berkat undangan dari Blogger BDG, hari Rabu, 18 Juli 2018 aku bisa main lagi ke Bio Farma yang berlokasi di Jl. Pasteur 28, Bandung. Tentu aja senangnya berkali-kali lipat, selain bisa kembali ke tempat yang sempat mengamanahiku tugas menjadi Duta Muda Vaksin Bio Farma 2014 dulu, juga menjadi ajang menambah daftar #JelajahMuseumKota, dapat vaksin gratis, dan bertemu orang-orangnya (penting!). Oh ya, mungkin prospek juga bakal jadi tempat KP (kuliah praktik) untuk tahun depan, heheh.


| Talkshow Membangun Imunitas Berkelanjutan

Kegiatan diawali dengan sambutan dari orang-orang keren. Ada Pak Disril Revolin Putra selaku Direktur SDM Bio Farma dan Bu Kenny Dewi Kaniasari selaku Kepala Disbudpar Kota Bandung yang bilang bahwa museum sekarang tuh bisa banget jadi spot jelajah pariwisata kota yang nggak boleh dilewatkan. Makanya kalau ke Bandung jangan cuma makan, belanja, tidur aja ya, main berwawasan juga perlu xP

Acara dilanjut dengan talkshow dari dua orang yang nggak kalah keren. Seorang dokter yang juga jadi Ketua Indonesia Medical Literacy, yakni Bapak dr. Andri Edwin Dahlan (btw, cek juga @idwanderlust deh!) serta Bapak Dr. Lutfi Yondri, M.Hum yang merupakan arkeolog. Keduanya cerita soal bagaimana museum dapat menghidupkan kembali jejak literasi, sejarah perkembangannya, sampai cerita tentang contoh museum kesehatan yang ada di Indonesia. Mindblowin'!

...



| Open House Museum Bio Farma

Beres sesi tersebut, sambil diselingi coffee break, marilah kita menjelajah tempat yang ditunggu-tunggu ya. Museum Bio Farma ini baru diresmikan tahun 2015 silam. Cuma nih, meski terbuka untuk umum, sejauh ini masih ditujukan bagi mereka yang melakukan reservasi, artinya memang khusus rombongan, cem dari sekolah, universitas, atau korporat gitu lah ya. Susah kalau #acipadankesendiriannya mau datang individu, kudu dikloning dulu *yakali*.

Ambis di kloter pertama menuju museum yang mengambil seperempat bagian heritage building di Pasteur 28 ini, aku masuk melewati bagian kanannya dulu berlawanan arah dengan orang lain, cause women always right, huh? :D Di bagian ini, ditampilkan CSR yang dilakukan Bio Farma berupa pengembangan Geopark Ciletuh di Sukabumi. Bangga nggak, perusahaan BUMN di Indonesia ini bisa menjadikannya sebagai situs resmi yang diakui UNESCO (wageelaseeh, proud pisan!).



Nggak kalah hacep, di sini juga dipamerkan penghargaan Indonesia Green Award dan Bio Farma On Media. Ada juga spot layar warna-warni di dindingnya tuh kece bets! Iya iya, instagramable banget deeeh...

Lanjut ke exhibition room, ada koleksi spek yang dibutuhkan dalam proses pembuatan vaksin sejak zaman baheula hingga sekarang, ular-ular yang diawetkan (kabarnya ini digunakan sebagai antisera, go Google it!), dan gambaran Bio Farma for The World. Yep, produk vaksin yang mereka hasilkan ini sudah dipakai di 137 negara di dunia termasuk 49 negara-negara Islam (OIC, Organization of Islamic Conference), dan tentu saja angka ini akan terus bertambah. Doain yuk!


Masih di bagian ruang koleksi, ada juga Bio Farma Milestone yang ngasih tau sejarah singkat Bio Farma. Dari seabad silam, namanya selalu berganti-ganti mengikuti perkembangan keadaan. Visi dan misinya menuju perusahaan life science kelas dunia yang berdaya saing global emang udah prospektif banget siih :))

Di ruangan yang sama, kita juga bisa liat penampakan Instituut Pasteur ini, manekin dengan baju khusus yang dipakai pegawai dalam memproduksi vaksin, dan proses pengolahan vaksinnya itu sendiri. Nggak ada hands on-nya, kek emang kudu steril luar dalam, lahiriah batiniah, terbebas dari dosa lah pokoknya.


Di sini juga ada pop up interaktif yang cerita soal kejadian luar biasa cacar api zaman dulu yang akhirnya jadi alasan kenapa vaksin hadir di dunia. Meski ya sedihnya juga, karena dulu orang belum steril dalam segi prosesnya, sampai ada orang-orang yang malah jadi korbannya akibat tularan virus. Huhu...


Pssst, untuk bikin satu vaksin aja nih, butuh waktu 15 - 20 tahun sebelum satu jenis vaksin layak edar, sebab pengujiannya emang kudu teliti dan bisa diketahui efek jangka panjangnya.

Fyi, suatu vaksin dikatakan baik itu kalau kita perhatikan lingkaran khusus yang menyatakan kualitasnya. Kalau warnanya berubah, nggak bisa lagi dipakai. Meskipun mungkin nggak akan ngasih dampak buruk banget, tapi kayak sakit aja nggak sih nyuntikin cairan tapi nggak ngefek apapun. Hahaha...

Nah, lanjut lagi di ruangan yang harusnya dijejaki pertama, ada Hall (or Wall?) of Fame, di sini ada ilustrasi direktur utama Bio Farma terdahulu. Dari yang masih dijabat sama bule-bule, sampai akhirnya diawali R.M. Sardjito sejak 1945 Indonesia merdeka hingga sekarang asli orang Indonesia semua.


Ada tempat duduknya juga, karena sebenarnya ini ruang audiovisual yang memutar video profil Bio Farma gitu. Ya kayaknya sih ruangan ini (harusnya) jadi bagian terakhir deh, sehabis lelah berjalan keliling museum, kan bisa leyeh duduk manis nonton kekerenan perusahaan ini.

Sejujurnya di awal masuk bakal disambut sama meja resepsionis, photo booth, dan layar interaktif yang di dindingnya terpampang patung seseorang bernama D.WA Borger, yang katanya adalah orang terkeren yang mau mengorbankan dirinya untuk jadi kelinci percobaan terhadap penelitian vaksinnya. Kalimat berbunyi "Terar Dum Prosim" yang berarti May I Be Consumed In Service terpahat di bawahnya. Saik!

...


| Protect Yourself with Vaccination

Oiya, diselingi juga sesi pemaparan materi dari dr. Edwin yang jelasin soal penyakit influenza. Nih ya, kelen harus tau, bahwa flu itu tidak sama dengan batpil (batuk pilek). Penyakit flu tuh lebih ripuh, lebih nyusahin, karena serangan dari virus yang terus mereplikasi diri. Kejem kali kan, makanya daripada diobatin, lebih baik mencegahnya dari awal. Harga vaksin (mungkin) terbilang mahal, untuk satu suntikan aja bisa berkisar 100rb-200rb  (dan ada banyak varian vaksin lainnya, kek vaksin MMR, polio, hepatitis, bahkan Bio Farma tuh keren bikin vaksin multifungsi, go check out about Pentabio!), tapi kan kalo dibandingin dengan pengobatan yang dikeluarkan kalau seandainya sakit, itu tuh nggak seberapa. Dan rerata vaksinnya tuh bertahan 0,5 - 1 tahun lho, dan bisa diperpanjang dengan immune booster.

Testimoni aja sih guys, daku sudah tiga kali vaksin Flubio dan Alhamdulillah, berkat kuasa-Nya dan salah satu ikhtiarnya dengan vaksin ini, aku nggak lagi kena flu di saat orang-orang di sekitarku terserang. Ya kalau sakit dikit itu mah stres akunya aja sih *alibi, tapi beneran ini mah*.

Last but not least, ada yang bilang vaksin itu haram. Ku pengen nyinyir, tapi gak boleh. Nih ya, kukasih bilang, bahwa seandainya pun ada komponen haram (babi kah, darah hewan kah, apa kah, tapi sejujurnya tiada gitu, meski tentu saja aku akan coba mempelajarinya, kalo kuat, hehe!), bahan-bahan tersebut hanya sebagai katalis yang mempercepat dan mempermudah prosesnya. Dan... bahan-bahan itu nggak ada langsung di vaksinnya kok. Seharam-haramnya vaksin, terus kenapa negara-negara Islam ada yang make? Jadi lebih baik meninggalkan generasi yang lemah nih, di saat orang-orang di luar negeri sana berbondong-bondong pakai vaksin produk dalam negeri? Yakin kamu, hah?

Jadi, kalo masih ada orang yang antivaksin, memangnya sanggup menerima perihnya polio, hepatitis, dan kemungkinan terburuk yang terjadi? Lebih baik mencegah daripada mengobati kan? Dan lagi deh, pegawai Bio Farma mayoritasnya berasal dari putra-putri terbaik bangsa yang muslim, in case kalo masih ngerasa ragu. Jadi, abis baca jelajah Museum Bio Farma ini, siap divaksin kan? :D

📍 Museum Bio Farma
⛳ Jl. Pasteur No. 28, Bandung
⏰ Senin - Jumat, 07.00 - 16.00 WIB
(Sabtu - Minggu dan hari libur tutup,
mengikuti jam kerja Bio Farma,
tapi reservasi dulu aja ya!)
📷 @biofarmaid
💻 www.biofarma.co.id


You May Also Like

0 comment(s)

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa