Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Kamu, Baik-Baik Saja?

by - Friday, May 18, 2018

2 Ramadan 1439 H


Dear Syifa,


Apa yang terjadi selama beberapa waktu belakangan ini bisa dibilang jadi yang paling mengubah pribadi kamu. Entah sejak kapan tepatnya, mungkin dari setahun yang lalu, kamu menyadari sudah ada yang berbeda. Kamu merasa kehilangan, tapi nggak tau apa. Kamu merasa tersesat, tapi nggak tau kemana. Dan kamu merasa, kamu terlalu takut mengakuinya lebih awal.

Dirimu mungkin berpikir bahwa hal ini biasa saja, sesuatu yang bisa kamu tahan dan kuatkan diri meski penuh dengan kepura-puraan. Aku bisa kok! Padahal hatimu sendiri nggak yakin mengatakannya. 

Semua hal tak lagi menjadi sama, itu sudah tentu pasti. Heraclitus bilang, satu-satunya yang tetap adalah perubahan. Ia nggak bisa dihindari. Ia nggak bisa kamu lewati begitu saja. Sebab yang namanya hidup itu nggak stagnan. Sama kayak roda, kalau mau bergerak harus berputar membuat jari-jarinya akan melewati berbagai posisi yang berbeda.

Dan tepat seminggu yang lalu, Jumat yang barokah, sekitar jam pagi saat aku menulis ini, kamu akhirnya memantapkan hati. Andai saja kamu tunda, meski sehari atau dua hari, bisa jadi kamu nggak akan sanggup menyelesaikan tiga ujian yang mengakhiri semester ini. Kamu hanya merasa, apa yang kamu putuskan di hari Jumat kemarin setidaknya akan membantu kamu tetap bertahan meski sampai Rabu sebelum ujian mata kuliah menutup tingkat duamu.

____
Setelah melewati berbagai lorong dengan bau desinfektan di sekelilingnya yang membuatmu tak nyaman, pintu Ruang 226 dibuka agak tergesa oleh seseorang berpakaian serba putih. Masuk ke dalamnya butuh energi besar. Baru duduk saja, kamu sudah tahu skenario apa yang mungkin terjadi ketika berhadapan dengan seseorang yang kamu kira perempuan, ternyata laki-laki. Lagipula siapa yang berpikir bahwa nama Bella bisa dimiliki laki-laki kan?

Singkat cerita, tangisan itu pecah, mengisi keheningan di ruangan berukuran 5x5 m itu—kalau aku perkirakan. Orang yang di hadapanmu, tak menunjukkan ekspresi yang macam-macam. Di akhir sesi, ia mengatakan sebutan untuk kondisi yang kamu alami saat ini. Kita sama-sama lupa. Intinya kamu sedang dalam kondisi kecemasan dan depresi. Hmm, sudah kuduga. 

Dari literatur yang ada, dua hal itu merupakan gangguan yang berbeda. Hebatnya kamu mengalami keduanya! Separah itu. Lalu apa yang kamu rasakan selanjutnya? Aku tebak kamu hanya mematung nrimo saja, mengangguk pelan ketika harus menebus resep obat, dan pulang dengan kondisi yang penuh dengan berbagai pertanyaan.

Setelah ini, kamu akan hidup seperti apa?

Setelah ini, hubungan dengan teman-temanmu bagaimana?

Setelah ini, masa-masa kuliahmu harus dijalani dengan cara apa?

Dan setelah ini, siapkah kamu bercerita tentang segalanya pada orangtuamu?


You May Also Like

4 comment(s)

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa