Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Apa Bedanya Reporter, Jurnalis, dan Wartawan?

by - Tuesday, May 22, 2018

Kalau ada satu pekerjaan yang benar-benar ingin aku kerjakan, maka menjadi seorang jurnalis adalah pilihannya. Sejauh ini aku cuma ngerasa menjadi reporter adalah satu-satunya pekerjaan yang kusukai, kulakukan dengan ikhlas, tanpa beban, tanpa banyak keluh kesah, meski ya memang kuakui sesekali ngejar setoran berita termepet deadline banget. Tapi nggak papa, deadline memang jadi cambuk semangat paling ampuh nan pamungkas!

Sekitar setahun yang lalu, ketika aku mengisi materi untuk pelatihan calon kru Radio Kampus ITB berkaitan reporter, aku pernah bertanya ke mereka apa bedanya reporter, jurnalis, dan wartawan? Rasanya sama-sama aja nggak sih? Tiga nama profesi itu sama-sama mengacu sebagai pencari berita. Belum termasuk orang-orang di belakang layar lain yang meliputi fotografer, videografer, produser, editor, camera person, atau video journalist yang juga punya andil besar dalam mempersembahkan suatu berita. Orang biasanya punya interpretasi masing-masing, dan terserah mereka mau menyebutnya apa. Media yang berbeda kadang punya sebutan yang berbeda juga. 

Satu yang pasti, aku bilang ke mereka adalah, kesemua profesi tersebut haruslah menyampaikan berita secara faktual dan jujur, apa adanya, tanpa rekayasa. Haha, udah berasa pro banget ya, padahal anak ingusan yang baru magang tiga bulan lho aku ini x_x Well, tapi nggak salah juga sih, itu pesan yang paling kuingat dari Mamah ketika aku "ketahuan" magang jadi reporter. Meskipun bisa dibilang bukan orang yang pertama tau, karena sebenarnya aku ragu-ragu untuk bilang ini, takut ndak direstui. Tapi karena kebetulan waktu itu dapat tugas liputan yang dekat rumah, mau nggak mau Mamah nanya, dan aku tidak boleh tidak jujur (nggak ngasih tau itu sama dengan bohong, nggak sih?)

Itu baru sejauh ini ya, soalnya aku kan belum makan asam garam kehidupan yang sangat banyak. Berkat intensif yang dikasih sebulan sekali dan menurutku itu cukup worth it dibandingkan menjadi asisten akademik selama satu semester, wkwk. Tapi kesampingkan hal itu, aku cuma benar-benar ngerasa jadi reporter itu hobi yang dibayar.

Meski memang, kegiatan lain macam nge-MC, sesekali jadi EYD nazi yang bikin aku pengen jadi proofreader (yah, nggak sehebat Ivan Lanin juga sih), atau jadi pembawa berita mungkin? Dipikir-pikir, sejauh ini belum ada cita-cita pasti yang akan kulakukan setelah nanti lulus dan mendapat gelar sarjana sains. Kepikiran kerja praktek sih inginnya di sini atau di sana, tapi malah ngebet pengen magang di Kompas karena sepertinya asyik melihat kakak tingkat yang sudah jadi wartawan. 

Sejauh ini juga, aku cukup senang mengalir bersama takdir. Aku pengen ngelakuin apa yang kusuka, and that's all.



You May Also Like

1 comment(s)

  1. jadi, bedanya apa? hehe. semoga istiqomah serial tulisan ramadhannya.^^

    ReplyDelete

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa