Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Seks Berbayar atau Seks Gratis, Mana Yang Lebih Baik?

by - Monday, September 10, 2018

Kembali lagi di ngeblog demi nugas, kali ini mata kuliah TKI memintaku menulis tentang sesuatu di luar garis batasku. Ngg, nganu, maksudnya nggak biasanya gitu lho aku membahas soal ini. Tapi karena judul materinya "Etika dalam Menulis", menurutku segala sesuatu itu bebas etika terlepas tabu atau nggaknya, tergantung bagaimana persepsi dan posisi seseorang memahaminya.


Jadi, Senin yang lalu, Pak Wardono meminta kami untuk menuliskan pendapat dari teman-teman mengenai suatu pertanyaan,

"Bagaimana menurutmu tentang seks berbayar atau seks gratis, mana yang lebih baik?"

Pertama, patut diperhatikan bahwa seks yang dimaksud di sini adalah suatu kata perbuatan, tindakan yang dilakukan setidaknya minimal dua orang manusia.

Kedua, seks yang dimaksud itu di luar nikah ya, tidak terikat oleh suatu hubungan sah baik secara agama dan negara. Tapi bisa jadi yang dimaksudkan juga pelaku seks adalah orang yang sudah menikah tapi melakukannya dengan orang lain selain pasangan sahnya.

Ketiga, mari menjadi objektif bahwa pelaku yang "me-" tidak harus selalu lelaki dan korban yang "di-" tidak harus selalu perempuan. Baik lelaki maupun perempuan memiliki peran yang sama untuk menjadi objek yang melayani dan dilayani, vice versa.

Keempat, haduh bingung. Mari lanjutkan membaca pendapat dari teman-temanku saja. Oh iya, perlu kukasih tahu bahwa aku tidak mengintervensi orang-orang tersebut untuk mengarah kepada suatu jawaban tertentu. Aku benar-benar membebaskan mereka dan menyatakan bahwa tiada pendapat yang salah maupun benar dalam hal ini, tapi bisa jadi tabu nggak tabu mereka menyatakannya.

Aku juga sengaja meminta berbagai narasumber dari kalangan yang berbeda. Meski Pak Wardono memberi syarat bahwa si narasumber harus masih mahasiswa, maka aku menambahkan sendiri bahwa narasumberku berasal dari jenis kelamin, tingkatan, jurusan, kampus, dan daerah yang berbeda-beda. Kenapa sih seserius itu ngerjain tugas ini? Hanya karena kupikir nggak ada salahnya, dan aku puas ketika mendapati jawaban mereka yang benar-benar bervariasi, dan ini bisa jadi karena latar belakang sosial yang mereka miliki nyaris nggak ada yang sama satu dengan yang lainnya, kecuali bahwa mereka adalah teman-temanku (atau kebetulan teman dari temanku, hhh).

So, let me tell you their opinion :)

"Kalau menurut aku, seks bebas atau seks berbayar udah bisa dibilang banyak di Indonesia. Mungkin salah satu penyebabnya juga karena pengaruh dari budaya-budaya luar yang mulai merambah ke kita, kayak gaya hidup dan lainnya. Nah, kalau menurutku sebenarnya nggak ada yang bagus di antara pilihan itu, hahaha. Tapi yaaaa, aku lebih memilih seks berbayar karena ada feedback-nya, wkwkwk. Tapi yaaa sebenarnya lebih ke attitude aja sih hal ini tuh".
- DA, mahasiswa bahasa asing

"Menurutnya, seks berbayar dan gratis nggak ada yang superior-inferior, dengan dasar kedua pihak saling setuju terhadap aktivitas tersebut. Namun, jika berdasarkan keamanan, lebih aman yang bebas (re: gratis) karena bagi seseorang yang dibayar maka kliennya tersebut dapat melakukan segalanya sebagai imbalan atas jasa yang ia bayar dan hak dia (re: seseorang yang dibayar) sebagai manusia pun akan diabaikan. Hal lain jika dia melakukan seks secara gratis atas dasar suka sama suka, sepertinya harga dirinya akan lebih terjaga".
- teman dari seorang teman, anak kajian

"Lebih baik seks berbayar karena berkelas, maksudnya mulai dari bayaran yang murah hingga sangat mahal ada. Bagi PSK yang kelas tinggi, dia tak sembarangan melayani klien namun dengan spesifikasi yang ia tetapkan, seperti hotel, kewajiban alat kontrasepsi, kriteria klien, dll. Beda dengan seks bebas yang dengan mudah berhubungan dengan orang lain dan lebih rentan terhadap kekerasan dan penyakit seksual".
- FZ, mahasiswa kedokteran

"Nah, kalau pandangan aku terhadap seks itu yang negatif dan haram dilakukan kalau belum nikah kan. Nah kalau ditanya pendapat aku tentang mana yang lebih baik antara seks berbayar dan seks yang gratis, sebenarnya dua-duanya nggak baik. Soalnya pandangan awal aku tentang seks itu yang memang udah nggak baik dan nggak boleh, walaupun itu berbayar, apalagi gratis :("
- AY, mahasiswa teknik

"Kalau menurut aku, ada beberapa sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang agama, jelas dua-duanya dilarang ya. Kedua, sudut pandang kesehatan, seks berbayar artinya udah dijadikin profesi bagi yang melayaninya kan, otomatis pasangan berganti-ganti, jelas itu buruk buat kesehatan orang yang melakukannya dan penyebaran infeksi menular seksual bakal meningkat. Yang kedua seks gratis (hubungan seks di luar nikah/pacaran lah ya karena belum halal bisa menjurus ke situ, jadi mending halalin dulu aja :D), meskipun nggak berganti-ganti pasangan misalkan, tetap aja lah rata-rata itu imbasnya ke psikis. Kalau psikis kena, fisik pun bakalan kena imbasnya. Intinya tubuh, jiwa, dan raga pada dasarnya sebenarnya nggak nerima. Ketiga, sudut pandang moral dan masyarakat, dua-duanya dipandang sebagai moral yang buruk lah di masyarakat. Mungkin perbedaannya kalau seks berbayar yang ngelakuinnya tuh terang-terangan gitu, meskipun di mata masyarakat itu jelek karena kadang mereka menganggap itu profesi atau kerjaan mereka. Tapi kalau seks gratis kebanyakan yang melakukannya justru menyembunyikan dengan menutup aibnya tersebut".
- UA, mahasiswa kedokteran

"Pendapat aku mengenai keduanya sih yang pasti itu tuh bukan tindakan yang bagus ya karena kultur kita juga beda ngiblatnya ke Timur. Jadi kalau emang ada yang melakukan hal tersebut, orang-orang pasti ngiranya bukan orang baik-baik, haha... Kalau disuruh milih mana yang lebih baik, aku lebih setuju yang berbayar sih, mungkin kayaknya lebih terjamin aja dari berbagai aspek, kayak kesehatannya gitu (?)".
- AH, mahasiswa ekonomi

"Buat gua sih seks gratis is better. Seks berbayar sangat mengobjektifikasi (I don't know if this term is right). Kedua subjek yang melakukan dan bisa terjadi baik pada pria maupun wanita. Sementara, seks gratis artinya kesepakatan melakukan seks itu disahkan lewat consent masing-masing subjek yang terlibat tanpa ada nilai tukar yang didevaluasi (money indeed). Ini which one is better baru dari segi pandang sosial aja dan preferensi gua. Sementara dari segi pandang lain, seks berbayar tentu lebih sederhana. Seseorang menyediakan jasa pemuas birahi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Di lain sisi, seks gratis adalah bentuk interaksi kompleks yang dalam studi perilaku merupakan ultimate function dari individu, untuk mendapatkan keturunan (hanya di beberapa hewan saja seks itu untuk pemenuhan nafsu)".
- AP, mahasiswa biologi

"Seks gratis itu maksudnya kayak seks suka sama suka dalam sebuah pasangan gitu? Kalau menurutku tidak ada yang lebih baik juga tidak ada yang lebih buruk dari keduanya. Seks berbayar membatasi pelakunya antara pihak yang melayani dan pihak yang ingin dilayani lalu membayar. Yang melayani dapat bayaran, yang dilayani harus mau berkorban kalau nafsunya mau tersalurkan. Sisi negatifnya, bisa jadi tidak terjadi atas dasar suka. Pihak yang melayani bisa saja lagi sedih tapi harus tetap bekerja. Menurutku hubungan seks itu anugerah Yang Maha Pengasih kasih buat manusia. Kalau kayak gitu, jadinya malah mepet ke perkosaan nggak sih? Terus malah seks gratis, kemungkinan besar kan dari dua orang yang berpasangan. Bisa sudah menikah bisa belum. Mungkin di sini konteksnya belum. Kalau begini, kesepakatan ada di keduanya atas dasar kemauan, bahwa kedua belah pihak tidak akan melakukan itu sama orang lain. Jadi bentuk bayarannya kayak kesetiaan gitu. Tapi ya kalau belum menikah ya itu masalahnya, karena tidak diikat undang-undang dan dilindungi aturan agama. Seks gratis sebelum menikah akan merugikan pihak yang nantinya mungkin bakal mengandung anak, yaitu perempuan".
- VN, mahasiswa desain

"Hmm kalau dalam artian pacaran terus seks, ya berarti itu orang bukan orang baik-baik. Soalnya bisa aja dia pacaran sama banyak orang buat seks aja, nggak cuma ke satu orang karena mindset-nya udah nggak bener. Kalau seks berbayar, ada yang emang cuma nawarin jasa dalam batasan tertentu. I mean sebatas kissing atau yang lainnya tapi nggak sampai ngeseks, hieee. Dua dua-duanya sama-sama zina sih, nggak ada yang better".
- GP, mahasiswa biologi

"Dari sisi manapun, aku jelas tidak mendukung keduanya dan nggak ada yang better. Keduanya memiliki resiko yang besar. Ketika seseorang melakukan seks, jelas orang itu punya alasan . Berbayar? Dikomersilkan? Kemungkinan paling besar masalah ekonomi, finansial, hal yang mendasar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seks secara gratis kemungkinannya cinta (?) atau nafsu yang mengatasnamakan cinta, pembuktian kasih sayang, paksaan, hal yang dipengaruhi emosi lainnya. Bahkan bisa jadi pelarian atau pemberontakan terhadap situasi yang dialami. Keduanya sama-sama melakukan seks tapi punya alasan berbeda, alasan yang cukup mendesak atau cukup kuat untuk mereka mengambil keputusan. Karena mengambil keputusan untuk melakukan seks itu adalah hal yang nggak mudah".
- SF, mahasiswa farmasi

"Menurut aku, seks berbayar itu untuk orang yang menggampangkan sesuatu, tapi kalau seks gratis itu orang yang mengerti arti perjuangan. Seks berbayar pake duit, seks gratis itu pasti orang yang mengerti seseorang pake kepuasan dan kenyamanan. Seks berbayar itu biasanya bertujuan untuk mengumpulkan uang, tapi seks gratis datang untuk kenikmatan dan kebutuhan satu dengan yang lain. Bagi aku, seks gratis lebih baik. Untuk laki-laki otomatis bukan laki-laki baj*ngan di awal, karena dia harus berjuang terlebih dahulu walaupun entah nantinya dia yang meninggalkan atau ditinggalkan. Seks berbayar otomatis baj*ngan yang sesungguhnya. Karena seks untuk membayar tanpa perjuangan, bukanlah laki-laki".
- GT, mahasiswa kelautan

"Gini, kita bahas secara luas ya. Kita mulai dari apa itu seks berbayar dan gratis. Kalau bayar dan gratis dimaksudkan dengan uang, aku setuju seks gratis karena seks lebih dari sekadar uang. Tapi yang lebih baik adalah seks berbayar, tapi bukan dengan uang, dengan kepercayaan, kesetiaan, intens".
- teman dari teman

"Seks berbayar itu jahat sih, aku pernah dengar dari temanku bahwa pekerja kayak gitu butuh mencapai target minimal 12 orang dalam seharinya. Secara fisik, dia pasti bakal kesakitan karena harus memenuhi itu, suka nggak suka dia".
- AS, mahasiswa sosial

"Mungkin menurut aku nggak ada yang better sih, wkwkwk. Kecuali setelah nikah itu sangatlah better".
- SD, mahasiswa bisnis

"Mmm mending seks gratis tapi sama suami ya, karena yang gitu bukan buat diperjualbelikan. Dua-duanya nggak mau sebenarnya".
- SH, mahasiswa sains

And... that's all! Aku tidak akan menyimpulkan sendiri pendapat dari 15 orang yang kutuliskan di atas, para pembaca budiman semoga bijak memahami maksud yang ingin disampaikan oleh teman-temanku itu. Tapi yang menarik adalah, ternyata lebih banyak orang yang memilih untuk "main aman" dari pertanyaan seperti itu. Bisa jadi takut ngomong, salah berpendapat, atau sekadar memang nggak sesuai dengan prinsip pribadi, yang berakhir dengan dalih pendapat tanpa memihak suatu pernyataan manapun. Nggak papa, semua orang memiliki keyakinannya masing-masing.

Last but not least, mengutip Moammar Emka penulis dari Jakarta Undercover, "karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini". Semoga kamu memaknai bagaimana etika bekerja di dunia dan setelahnya.

Berang-berang minum cuka,
Semoga kamu suka.

You May Also Like

0 comment(s)

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa