Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Pilih Mana, Mencintai atau Dicintai?

by - Thursday, May 31, 2018

Urusan mencintai ternyata tidak semudah itu, perlu keberanian yang sangat untuk mulai menumbuhkan perasaan pada sesuatu lain. Tapi lebih sulit lagi adalah, mengatakan bahwa sedang mencintai, itu butuh perjuangan dan pengorbanan, untuk memulai menyatakannya dan siap menerima resikonya, apapun yang jadi balasannya.

Kalau dicintai itu menyenangkan, kenapa mencintai juga tidak sama menyenangkannya—dalam diam atau bahkan secara terang-terangan, dalam upaya menahannya sendiri atau malah dijawab perasaan yang sama.

Aku tidak menafikkan diri bahwa juga pernah merasakan perasaan cinta ini. Tapi percayalah, rasanya aku lebih banyak menjadi pihak yang mencintai daripada dicintai itu sendiri. Walaupun tidak seagung dan sesuci cinta bagaimana seharusnya, mari sederhanakan cinta yang kumaksud. Kali ini, aku sedang membicarakan cinta pada sesama manusia. Manusia lain yang bukan orangtua, saudara, atau keluarga.

Aku perempuan, aku mencintai. Kombinasi yang kompleks untuk sebuah komplikasi. Malu, takut, ragu untuk berharap dicintai dengan cara mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. Tebar pesona, tebar kode, ah apa pula itu kalau dengan melakukan berbagai cara, si dia masih tidak peka. Seolah merendahkan diri untuk sesuatu yang tidak pasti, tentu saja kupilih menjaga gengsi. 

Tapi dear, cinta yang murni memang tidak sesederhana itu. Aku mencintai, lantas sekejap mata bisa dicintai, cerita macam apa itu? Nggak seru, klimaks yang membosankan. Yang datangnya instan, memang akan pergi dengan instan juga kan?

Hikmahnya, aku tak lagi semudah itu jatuh ke dalam pelukan cinta. Allah Yang Mahabaik menjagaku untuk tidak selalu mencintai, Ia yang harusnya menjadi #1 yang selalu bisa kucintai tanpa tapi. Aku mencintai dan dicintai dalam waktu yang bersamaan. 

Yang kupelajari, perihal mencintai – dicintai tidak pernah mudah, tapi juga tidak pernah sulit. Kecuali ketika melibatkan kuasa Allah di dalamnya, sesulit hati manusia sekalipun, semudah itu pulalah Allah membolak-balikkannya. Jadi, kenapa berharap pada cinta manusia, bukankah ketika berharap pada Sang Mahacinta, apapun yang jadi harapanmu, akan mudah diiyakan?


You May Also Like

0 comment(s)

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa