Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Duka Menuntut Untuk Dirasakan

by - Friday, May 25, 2018

Sedih sesedihnyalah kamu, biar nanti hanya diisi perasaan senang dan tenang saja karena luapan kesedihanmu sudah habis tak bersisa.

Sakit sesakitnyalah kamu, biar nanti kesembuhan menghampirimu, membuatmu tangguh dan kuat menghadapi segala ancaman penyakit dan kesakitan.

Jatuh sejatuhnyalah kamu, biar nanti bangkit dan berdiri di kakimu dengan tegak, tegap, dan tegar untuk bisa berjalan, berlari, bahkan merangkak sekalipun.

Marah semarahnyalah kamu, biar nanti ikhlas dan tuntas perasaan terhina dalam hatimu, menghancurleburkan dan melululantahkan api keburukan dengan air kebaikan.

____
Berceritalah, kalau kamu gelisah. Berdoalah, kalau kamu ingin berkeluh-kesah.

____
Hidup terus berlanjut, detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun, tahun dirangkai oleh bulan, hari, jam, menit, dan detik.

Waktu yang senantiasa ada, berdetak, berdetik, berdetuk.

Ia yang akan berbaik hati mengobati segalanya.

____
Aku bukan seseorang yang dengan mudah menghilangkan duka dengan sangat cepat, kecuali ada katalisator yang setidaknya mampu membuatku untuk bisa waras melanjutkan hidup. Es krim, makan makanan yang pedas, berjalan-jalan, menonton drama, membaca buku, beres-beres kamar, adalah sekian hal yang paling ampuh menjadi pelipur lara kala didera luka.

Sedih, pasti
Sakit, pasti.
Marah, pasti.
Dan jatuh, terluka.

Tapi Allah Mahabaik, segala perasaan memang Ia karuniakan pada hamba-hamba-Nya. Tidak hanya aku, kamu, semua manusia! Dan itu wajar, tak mengapa.

Aku tidak cukup setuju untuk membandingkan kesedihan satu orang dengan orang lainnya. Don’t compare, it’s your own journey, it’s your own life. Tapi bila dengan menyadari masih banyak orang lain yang lebih sedih dan mengalami kejadian yang lebih sakit, bukankah artinya aku juga bisa lebih mampu menghadapinya kan?

Masih banyak orang lain yang tidak lebih beruntung dibandingkan kita saat ini. Ini memberikan pengertian bahwa hidup belum berakhir, hidup masih berlanjut, dan mungkin saja menjadi awal untuk ’hidup kembali’.

Setiap makhluk berhak atas (setidaknya, satu) harapan.

____
Tidur, siapa tahu besok pagi kamu ’kan disambut dengan hari yang lebih baik.

Atau jika ini adalah waktu terakhirmu, agar kamu tak berduka lagi.

Tapi semoga tabungan kita sudah lebih dari cukup untuk layak masuk ke dalam surga-Nya.


You May Also Like

0 comment(s)

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa