Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Kunciran Rambut dan Tiga Hari Berjauhan

by - Wednesday, May 30, 2018

Waktu SD dulu, aku punya kebiasaan untuk menyamakan warna kunciran rambut bareng salah satu temanku (yang sebenarnya juga saudaraku, anak bungsu dari kakak nenek dari pihak ibuku) sebelum berpisah dari sekolah. Nggak ada jadwal khusus di hari tertentu harus pakai warna apa, penggunaan warna kunciran rambut ditentukan H-1 sebelumnya. Misal, untuk Rabu besok kita sepakat untuk pakai kunciran rambut yang warnanya biru, atau jingga, atau merah.

Dan pas keesokan harinya kita pakai warna kunciran rambut yang sama, berasa punya kembaran meski sebenarnya kami terpaut beda umur dua tahun (dia kelahiran 1997, aku tahun 1999, fyi!). Nggak tau juga sih tujuannya buat apa, maklum lah anak SD sukanya yang lucu-lucu. Tapi buatku hal itu punya makna tersendiri, kami jadi lebih mudah akrab (ya sebenarnya agak nonsense karena aku akrab sama semua teman-teman SD-ku yang jumlahnya 23 orang, dan kebanyakan di antaranya masih saudara sekeluarga atau tetangga, haha).

Tapi satu kejadian membuat kami nggak lagi melakukan hal tersebut. Teman-teman sekelas ngerasa heran, karena nggak biasanya sebelum pulang sekolah, kami nggak bikin kesepakatan dulu soal warna kunciran rambut ini. Iya, waktu itu ceritanya kami lagi pabaeud-baeud (saling menjauhi, perang dingin gitu lah). 

Selama beberapa hari, benar-benar nggak ada interaksi antara aku sama dia. Aku nggak tau salahku apa, dia juga, makanya nggak ada yang mau mulai minta maaf dan ngomong duluan. Ya ampun, gengsi sudah dipupuk sejak dini kali ya x))

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya: “Tidaklah halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari. Barangsiapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”. (HR. Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’: 7635)

Tapi kemudian pas aku ngaji dan mendapati hadist ini, aku langsung tersadarkan. Waktu itu lebih dari tiga hari kami nggak saling sapa. Kalau semakin lama didiamkan bakal semakin nggak baik, pikirku saat itu.

Tanpa menunda lagi, sekitar satu minggu pascakejadian, kami mulai berinteraksi. Masih malu-malu sih, tapi kan bisa disiasati dengan ‘terpaksa’ ada dalam satu kelompok tugas yang sama. Dan ya sudah... kami berbaikan, nggak lagi jauh-jauhan, meski hikmahnya nggak ada perjanjian memilih warna kunciran rambut yang sama lagi, wkwk.

Sederhana, tapi bermakna banget. Masa-masa itu mengajarkan kami bahwa silaturahim memang benar-benar harus dijaga. Nggak kebayang kalau dulu aku nggak ditegur dengan hadist itu, siapa yang tahu kalau ternyata butuh waktu lebih lama bagi kami untuk saling bertegur sapa lagi, yang artinya makin menambah peluang dosa, iya kan?


You May Also Like

0 comment(s)

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa